I.
Stress
A.
Arti Penting Stress
Stres
merupakan suatu kondisi anda yang dinamis saat seorang dihadapkan pada suatu
peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan
oleh seseorang itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stress
merupakan beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri,
sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat. (ref:edy64).
Stres tidak
selalu buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks negatif, karena stres
memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan potensi hasil.
Sebagai contoh, banyak profesional memandang tekanan berupa beban kerja yang
berat dan tenggat waktu yang mepet sebagai tantangan positif yang menaikkan
mutu pekerjaan mereka dan kepuasan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka..
Stres bisa
positif dan bisa negatif Para peneliti berpendapat bahwa stres tantangan, atau
stres yang menyertai tantangan di lingkungan kerja, beroperasi sangat berbeda
dari stres hambatan, atau stres yang menghalangi dalam mencapai tujuan.
Meskipun riset mengenai stres tantangan dan stres hambatan baru tahap
permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stres tantangan memiliki banyak
implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan.
Arti Penting Strees :
Stress menurut
Hans Selye 1976 merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap
setiap tuntutan atau beban atasnya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat
dikatakan stress apabila seseorang mengalami beban atau tugas yang berat tetapi
orang tersebut tidak dapat mengatasi tugas yang dibebankan itu, maka tubuh akan
berespon dengan tidak mampu terhadap tugas tersebut, sehingga orang tersebut
dapat mengalami stress. Respons atau tindakan ini termasuk respons fisiologis
dan psikologis.
B.
Tipe-tipe
stress
Eustress
Eustress adalah stres dalam bentuk positif. Ini adalah stres yang baik yang dapat merangsang seseorang untuk melakukan berbagai hal dengan lebih baik. Seseorang dapat merasakan situasi tertentu, seperti pekerjaan baru, atau bertemu dengan idolanya. Jenis stres ini disebut sebagai eustress, dan secara fisik dan psikologis tidak berbahaya. Sebaliknya, stres jenis ini dapat memiliki efek positif pada kesehatan dan kinerja individu, setidaknya dalam jangka pendek.
Distress
Distress, atau apa yang biasa kita sebut sebagai stress, adalah jenis stress yang memiliki efek negatif pada kesehatan fisik dan emosional. Distress sering menghasilkan emosi yang intens, seperti kemarahan, rasa takut, dan kecemasan atau panik. Terkadang, tekanan juga dapat terwujud dalam gejala fisik, seperti palpitasi, sesak napas, dan peningkatan tekanan darah.
Distress atau 'stres buruk' selanjutnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis - distres akut, gangguan akut episodik, dan penderita kronis.
Distress akut
Distres akut adalah jenis yang paling umum dari stres yang datang tiba-tiba, menjadikan kita ketakutan dan bingung. Meskipun stres akut hanya berlangsung untuk jangka waktu pendek. Stres akut sering menghasilkan reaksi'lari atau melawan'. Sebuah wawancara kerja, atau ujian dimana kita belum cukup siap adalah beberapa contoh yang bisa menyebabkan stres akut. Gejala-gejala stres akut dapat dengan mudah diidentifikasi. Gejala tersebut dapat meliputi tekanan emosional, sakit kepala, migrain, peningkatan denyut jantung, palpitasi, pusing, sesak napas, tangan atau kaki terasa dingin, dan keringat berlebihan.
Distress Episodic Akut
Istilah 'stres akut episodik' biasanya digunakan untuk situasi ketika stres akut menjadi norma. Jadi, gangguan episodik akut ditandai dengan sering mengalami stres akut. Orang-orang memiliki jenis stres ini sering menemukan diri mereka berjuang untuk mengatur kehidupan mereka dan sering menempatkan tuntutan yang tidak perlu dan tekanan pada diri mereka sendiri, yang akhirnya dapat menyebabkan kegelisahan dan lekas marah.
Orang yang menderita gangguan episodik akut selalu terburu-buru. Jenis stres dapat menyebabkan masalah yang berhubungan dengan pekerjaan, selain memburuknya hubungan interpersonal. Gejala yang paling umum stres episodik akut adalah lekas marah, sakit kepala terus-menerus, ketegangan, migrain, hipertensi, dan nyeri dada.
Distress kronis
Distress kronis adalah stres yang bertahan untuk waktu yang lama. Stres kronis biasanya berasal keadaan yang tidak dapat dikontrol. Kemiskinan, perasaan terperangkap dalam karir menjijikkan, hubungan yang bermasalah, dan pengalaman trauma masa kecil adalah beberapa contoh peristiwa atau keadaan yang dapat menyebabkan stres kronis.
Stres kronis sering menimbulkan rasa putus asa dan kesengsaraan, dan dapat mendatangkan malapetaka pada kesehatan baik fisik dan mental. Kelelahan mental dan fisik akibat stres kronis kadang-kadang dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti, serangan jantung dan stroke. Hal ini juga dapat menyebabkan depresi, kekerasan, dan bunuh diri dalam kasus yang ekstrim. Mungkin aspek terburuk dari stres kronis adalah bahwa orang terbiasa dengan jenis stres, dan sehingga sering diabaikan atau diperlakukan sebagai cara hidup. Mengobati stres kronis tidak mudah, biasanya membutuhkan perawatan medis dan tehnik manajemen stres.
Kadang-kadang stres atau Distress diklasifikasikan menjadi beberapa kategori lain, seperti physical, chemical, emotional, mental, traumatic, and psycho-spiritual. Dr Karl Albrecht, seorang konsultan manajemen, dosen, dan penulis telah mendefinisikan empat jenis stres dalam bukunya, 'Stres dan Manager'. Keempat jenis stres yang dikenal sebagai time stress, anticipatory stress, situational stress, and encounter stress.
Time stres adalah stres yang dialami ketika kita berjalan singkat atau memiliki banyak hal yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Anticipatory stress adalah stres yang kita alami tentang masa depan. Stres situasional biasanya disebabkan oleh situasi menakutkan yang berada di luar kendali kita. Di sisi lain, ketika kita merasa cemas tentang bertemu dan berinteraksi dengan orang tertentu atau sekelompok orang, itu disebut sebagai encounter stress.
Jadi, stres ada beberapa jenis, dan dengan demikian pengobatan dan manajemen dapat sangat berbeda. Langkah pertama dari manajemen stres adalah mengidentifikasi jenis stres yang dialami, serta jenis stres (peristiwa dan pikiran) yang menciptakan stres. Sekali telah mengidentifikasi stres tertentu, kita dapat mengambil tindakan yang tepat untuk mengontrol atau mengatur mereka. Meditasi, yoga, dan teknik relaksasi lainnya, bersama dengan sikap positif terhadap kehidupan dapat membantu dalam mengendalikan stres. Tapi kadang-kadang, bantuan profesional mungkin diperlukan untuk menghilangkan atau mengontrol faktor-faktor yang memicu stres.
Eustress adalah stres dalam bentuk positif. Ini adalah stres yang baik yang dapat merangsang seseorang untuk melakukan berbagai hal dengan lebih baik. Seseorang dapat merasakan situasi tertentu, seperti pekerjaan baru, atau bertemu dengan idolanya. Jenis stres ini disebut sebagai eustress, dan secara fisik dan psikologis tidak berbahaya. Sebaliknya, stres jenis ini dapat memiliki efek positif pada kesehatan dan kinerja individu, setidaknya dalam jangka pendek.
Distress
Distress, atau apa yang biasa kita sebut sebagai stress, adalah jenis stress yang memiliki efek negatif pada kesehatan fisik dan emosional. Distress sering menghasilkan emosi yang intens, seperti kemarahan, rasa takut, dan kecemasan atau panik. Terkadang, tekanan juga dapat terwujud dalam gejala fisik, seperti palpitasi, sesak napas, dan peningkatan tekanan darah.
Distress atau 'stres buruk' selanjutnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis - distres akut, gangguan akut episodik, dan penderita kronis.
Distress akut
Distres akut adalah jenis yang paling umum dari stres yang datang tiba-tiba, menjadikan kita ketakutan dan bingung. Meskipun stres akut hanya berlangsung untuk jangka waktu pendek. Stres akut sering menghasilkan reaksi'lari atau melawan'. Sebuah wawancara kerja, atau ujian dimana kita belum cukup siap adalah beberapa contoh yang bisa menyebabkan stres akut. Gejala-gejala stres akut dapat dengan mudah diidentifikasi. Gejala tersebut dapat meliputi tekanan emosional, sakit kepala, migrain, peningkatan denyut jantung, palpitasi, pusing, sesak napas, tangan atau kaki terasa dingin, dan keringat berlebihan.
Distress Episodic Akut
Istilah 'stres akut episodik' biasanya digunakan untuk situasi ketika stres akut menjadi norma. Jadi, gangguan episodik akut ditandai dengan sering mengalami stres akut. Orang-orang memiliki jenis stres ini sering menemukan diri mereka berjuang untuk mengatur kehidupan mereka dan sering menempatkan tuntutan yang tidak perlu dan tekanan pada diri mereka sendiri, yang akhirnya dapat menyebabkan kegelisahan dan lekas marah.
Orang yang menderita gangguan episodik akut selalu terburu-buru. Jenis stres dapat menyebabkan masalah yang berhubungan dengan pekerjaan, selain memburuknya hubungan interpersonal. Gejala yang paling umum stres episodik akut adalah lekas marah, sakit kepala terus-menerus, ketegangan, migrain, hipertensi, dan nyeri dada.
Distress kronis
Distress kronis adalah stres yang bertahan untuk waktu yang lama. Stres kronis biasanya berasal keadaan yang tidak dapat dikontrol. Kemiskinan, perasaan terperangkap dalam karir menjijikkan, hubungan yang bermasalah, dan pengalaman trauma masa kecil adalah beberapa contoh peristiwa atau keadaan yang dapat menyebabkan stres kronis.
Stres kronis sering menimbulkan rasa putus asa dan kesengsaraan, dan dapat mendatangkan malapetaka pada kesehatan baik fisik dan mental. Kelelahan mental dan fisik akibat stres kronis kadang-kadang dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti, serangan jantung dan stroke. Hal ini juga dapat menyebabkan depresi, kekerasan, dan bunuh diri dalam kasus yang ekstrim. Mungkin aspek terburuk dari stres kronis adalah bahwa orang terbiasa dengan jenis stres, dan sehingga sering diabaikan atau diperlakukan sebagai cara hidup. Mengobati stres kronis tidak mudah, biasanya membutuhkan perawatan medis dan tehnik manajemen stres.
Kadang-kadang stres atau Distress diklasifikasikan menjadi beberapa kategori lain, seperti physical, chemical, emotional, mental, traumatic, and psycho-spiritual. Dr Karl Albrecht, seorang konsultan manajemen, dosen, dan penulis telah mendefinisikan empat jenis stres dalam bukunya, 'Stres dan Manager'. Keempat jenis stres yang dikenal sebagai time stress, anticipatory stress, situational stress, and encounter stress.
Time stres adalah stres yang dialami ketika kita berjalan singkat atau memiliki banyak hal yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Anticipatory stress adalah stres yang kita alami tentang masa depan. Stres situasional biasanya disebabkan oleh situasi menakutkan yang berada di luar kendali kita. Di sisi lain, ketika kita merasa cemas tentang bertemu dan berinteraksi dengan orang tertentu atau sekelompok orang, itu disebut sebagai encounter stress.
Jadi, stres ada beberapa jenis, dan dengan demikian pengobatan dan manajemen dapat sangat berbeda. Langkah pertama dari manajemen stres adalah mengidentifikasi jenis stres yang dialami, serta jenis stres (peristiwa dan pikiran) yang menciptakan stres. Sekali telah mengidentifikasi stres tertentu, kita dapat mengambil tindakan yang tepat untuk mengontrol atau mengatur mereka. Meditasi, yoga, dan teknik relaksasi lainnya, bersama dengan sikap positif terhadap kehidupan dapat membantu dalam mengendalikan stres. Tapi kadang-kadang, bantuan profesional mungkin diperlukan untuk menghilangkan atau mengontrol faktor-faktor yang memicu stres.
c. Symptom-reducing respon tindakan
stress
Mekanisme
pertahanan diri (defense mechanism) merupakan stratregi yang tidak
disadari yang digunakan untuk mengatasi emosi negatif. Strategi ini tidak
mengubah situasi stress melainkan bertujuan untuk mengubah cara menghayati atau
memikirkan situasi. Jenis-jenis defense mechanism :
a.
Represi
Dalam
represi, impuls dan memori yang menimbulkan rasa malu, rasa bersalah atau sikap
mencela diri sendiri ditekan atau direpres masuk ke bawah sadar.
b.
Rasionalisasi
Rasionalisasi
dalam mekanisme pertahanan diri adalah bertindak dengan menggunakan motif yang
dapat diterima secara logis atau sosial, sedemikian rupa sehingga tampaknya
bertindak secara rasional. Rasionalisasi memiliki dua fungsi, yaitu
menghilangkan kekecewaan pada saat kita gagal mencapai tujuan dan merasionalisasikan
apa yang telah kita lakukan untuk menempatkan perilaku kita dalam pandangan
yang lebih menguntungkan.
c.
Pembentukan Reaksi
Pembentukan
reaksi terjadi ketika orang melakukan perbuatan yang sebaliknya dari motif yang
sesungguhnya.
d.
Proyeksi
Proyeksi
adalah perilaku seseorang yang menutupi perilakunya yang tidak layak atau
kurang baik, kemudian memproyeksikan kualitas atau sifat yang tidak baik
tersebut pada orang lain.
e.
Penyangkalan
Penyangkalan
adalah upaya untuk menolak kenyataan negatif yang ada pada diri kita atau
keluarga kita.
f.
Intelektualisasi
Intelektualisasi
adalah upaya melepaskan diri dari situasi stres dan menghadapinya dengan
menggunakan istilah-istilah yang abstrak dan intelektual.
g.
Pengalihan
Mekanisme
pertahanan yang dianggap dapat memenuhi fungsinya adalah mekanisme yang dapat
menurunkan kecemasan dan memuaskan motif yang tidak dapat dibenarkan dengan
cara melakukan pengalihan ke aktivitas lain.
d.
pendekatan problem solving terhadap tindakan stress
Strategi
coping yang spontan mengatasi stress
Taylor (1991) mengemukakan 8
strategi coping yang berbeda: (a) Konfrontasi, (b) mencari dukungan sosial, (c)
merencanakan pemecahan masalah dikaitkan dengan ‘problem-focused coping’.
Strategi coping lainnya memfokuskan pada pengaturan emosi: (d) kontrol diri,
(e) membuat jarak, (f) penilaian kembali secara positif (positive reappraisal), (g) menerima tanggung jawab dan (h)
lari/penghindaran (escape/avoidance) (Taylor,
1991). Tetapi penelitian lainnya menetapkan jumlah dan jenis strategi coping
yang berbeda. Contohnya, Cohen & Lazarus (1983) memberikan 5 cara coping,
Vingerhoets dkk. (1990) 7 cara dan Sarafino (1990) mengidentifikasi 6 cara
coping. Carver, Scheier dkk bahkan memberikan 13 skala yang berbeda (Eiser,
1990).
Perlu diketahui, bahwa tidak ada
satu pun metode yang dapat digunakan untuk semua situasi stress. Tidak ada
strategi coping yang paling berhasil. Strategi coping yang paling efektif
adalah strategi yang sesuai dengan jenis stress dan situasi (Rutter, 1983).
Keberhasilan coping lebih tergantung pada penggabungan strategi coping yang
sesuai dengan ciri masing-masing kejadian yang penuh stress, dari pada mencoba
menemukan satu strategi coping yang paling berhasil (Taylor, 1991).
II.
Hubungan Interpersonal
a.
Model-model
hubungan interpersonal
Ada
empat buah model yang dapat digunakan untuk menganalisa hubungan interpersonal
(Rakhinat, 1991), meliputi:
a.Model
pertukaran sosial (social exchange model)
Model
ini mendefinisikan hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang yang
akan raemberikan keuntungan bagi individu.
Model ini mendorong individu memikirkan setiap keuntungan
dan keragian dari hubungan yang terjalin. Individu yang merasa tidak memperoleh
keuntungan saina sekali maka ia akan berusaha mencari hubungan yang lain yang
memberinya keuntungan. Keuntungan dan kerugian ini dinilai berdasarkan tingkat
perbandingan sebagai tikurau staudiir beriipn pengalaman masa lalu atau
alternatif hubungan lain yang terbuka baginya,
b.Model peranan {role model)
Hubungan interpersonal adalah panggung sandiwara yang
setiap orang harus memainkan peranannya sesuai "naskah" yang dibuat
masyarakat. Hubungan ini akan berkembang bila individu bertindak sesuai
kewajiban atau tugas yang berkaitan dengan posisi tertentu, desakan sosial yang
memaksa individu untuk memenuhi peranannya, kemampuan meraerankan peranan
tertentu, serta mampu menghindari konflik peranan bila individu tidak sanggup
mempertemukan berbagai peranan yang kontradiktif.
c. Model permainan (the"game people play"model')
Hubungan interpersonal sebagai ajang menampilkan salah
satu aspek kepribadian individu (orang tua, dewasa, anak). Dikenai sebagai
analisis transaksional.
d.Model interaksional
Hubungan interpersonal
merupakan
suatu sistem yang memiliki sifat-sifat struktural, integralif dan medan yang
masing-masing saling terkait raembentuk kesatuan skala yang cenderung
memelihara dan mempertahankan kesatuan. Artinya, hubungan interpersonal melihat
karakteristik individu yang terlibat, sifat kelompok, individu, tujuan,
inetode, pelaksanaan dan pennainan yang dilakukan (gabungan dari model
pertukaran, peranan dan pennainan).
Menurut Reis dan Patrick (1996 dalam Hewstone, Fincham
dan Foster, 2005), orang akan mengidentifikasi hubungan yang menyenangkan
ketika:
a.
Caring : kita merasa orang lain cinta dan perhatian pada kita. Kita merasa
senang jika teman sebaya kita memberikan perhatian kepada kita. Apabila kita
mengalami kesusahan dan teman kita berempati maka kita pasti akan merasa nyaman
berteman dengan mereka.
b.
Understanding : orang lain memahami kita. Hubungan yang menyenangkan akan
terjadi apabila kita bisa saling memahami satu sama lain. Contohnya adalah
ketika teman kita sedang berada di situasi yang tidak mengenakan, kita harus
memahaminya dengan cara tidak membuat suasana menjadi semakin runyam.
c.
Validating : orang lain menunjukkan penerimaannya pada kita. Contohnya adalah
kita merasa nyaman berteman dengan teman kita karena mereka memberikan respon
terhadap apa yang kita lakukan dan menerima segala kelebihan dan kekurangan
kita.
Tahapan hubungan interpersonal
Menurut
Knapp, siklus hubungan terbagi menjadi :
1.
Tahap Memulai (Initiating)
Merupakan
usaha-usaha yang sangat awal yang kita lakukan dalam percakapan dengan
seseorang yang baru kita kenal. Seperti contohnya ketika ingin berkenalan
dengan teman baru, kita menanyakan namanya dan bagaimana kabarnya.
2.Tahap
Penjajagan (Experimenting)
Merupakan
fase dimana kita mencoba topik-topik percakapan untuk mengenal satu sama lain.
Misalnya kita berbasa-basi dengan teman yang baru kita kenal. Ini bertujuan
agar bisa mengetahui pribadi masing-masing.
3.
Penggiatan (Intesifying)
Menandai
awal keintiman, berbagi informasi pribadi dan awal informalitas yang lebih
besar.
Dalam
fase ini seseorang sudah mulai menceritakan masalah pribadinya dan sudah mulai
terbuka kepada temannya.
4.
Pengintegrasian (integrating)
Terjadi
bila dua orang mulai menganggap diri mereka sebagai pasangan. Keduanya secara
aktif memupuk semua minat, sikap dan kualitas yang tampaknya membuat mereka
unik sebagai pasangan.
5.
Pengikatan (Bounding)
Adalah
tahap yang lebih formal atau ritualistic, bisa berbentuk pertunangan atau
perkawinan, namun “berhubungan tetap” juga merupakan suatu bentuk pengikatan
b.
Pembentukan
Kesan dan ketertarikan interpersonal
Pembentukan
persepsi interpersonal menunjukkan bahwa persepsi diawali
dengan observasi terhadap seseorang, kemudian terjadi proses
atribusi dan disposisi atau pengaturan dan
pengintegrasian seluruh faktor yang berperan
dalam persepsi secara terintegrasi sehingga membentuk suatu kesan terhadap objek persepsi. pembentukan kesan dapat timbul melalui dua cara, yaitu: (a) stimulus yang diterima
melalui observasi memperoleh
penilaian atau atribusi, pengelolaan atau disposisi, dan interpretasi secara terintegrasi dengan keseluruhan
aspek yang memengaruhi persepsi serta
pribadi person yang terlibat dalam proses interaksi,
atau (b) stimulus yang diterima menimbulkan kesan secara langsung melalui penilaian sesaat tanpa proses atribusi,
disposisi, dan integrasi. Selanjutnya, faktor personal seperti karakteristik
pribadi, pengalaman,
hubungan personal sebelumnya, motif-motif; serta faktor situasional sangat berperan dalam persepsi
interpersonal. Oleh karena itu,
dalam persepsi interpersonal dapat terjadi kekeliruan persepsi yang dapat
bersumber dari faktor personal pada diri penanggap.
c.
Intimasi
dan hubungan pribadi
Intimasi atau ketertarikan adalah
sebuah fenomena yang dialami dan dirasakan oleh setiap individu didalam
kehidupannya, terkadang ketertarikan itu berawal dari sebuah proses interaksi
antara satu individu dengan individu lainnya.
Daya tarik hubungan
interpersonal merupakan faktor penyebab terjadinya hubungan interpersonal. Ada
faktor internal dan juga faktor eksternal. Faktor Internal (Baron dan Byrne,
2008). Faktor internal adalah faktor dalam diri kita
meliputi dua hal, yaitu kebutuhan untuk berinteraksi (need for affiliation) dan pengaruh perasaan.
Interaksi antara satu orang dengan orang yang lain bisa terjadi di mana saja, misalnya di rumah, sekolah, kantor pos,
kantin, dan lain- lain. Namun, kebutuhan untuk saling berinteraksi dengan
orang-orang disekitar kita berbeda-beda satu sama lain.
Dalam menjalin suatu hubungan
ada beberapa faktor yang mempengaruhi:
1. Faktor perasaan
2. Kedekatan
3. Daya tarik fisik
Dengan adanya ketiga faktor
tersebut maka akan terjadi hubungan tingkat lanjut yang kita kenal dengan
intimasi. Intimasi ini tentunya merupakan hubungan yang bersifat lebih
personal. Hubungan interpersonal yang didasarkan atas tingkat kedalaman atau
keintiman, yaitu hubungan biasa dan hubungan akrab atau intim. Hubungan biasa
merupakan hubungan yang sama sekali tidak dalam atau impersonal atau ritual.
Sedangkan hubungan akrab atau intim ditandai dengan penyingkapan diri
(self-disclosure). Makin intim suatu hubungan, makin besar kemungkinan
terjadinya penyingkapan diri tentang hal-hal yang sifatnya pribadi. Hubungan
intim terkait dengan jangka waktu, dimana keintiman akan tumbuh pada jangka
panjang. Karena itu hubungan intim akan cenderung dipertahankan karena
investasi yang ditanamkan individu di dalamnya dalam jangka waktu yang lama
telah banyak. Hubungan ini bersifat personal dan terbebas dari hal-hal yang
ritual.
Sumber :
http://adelia-gustitia-fpsi12.web.unair.ac.id/artikel_detail-62548-Psikoloi%20Umum%20I-Hubungan%20Interpersonal.html.
Diakses pada tanggal 23 Oktober 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar