Selasa, 15 April 2014

Tugas 2 Kesehatan Mental

I.                   Stress
A.    Arti Penting Stress
Stres merupakan suatu kondisi anda yang dinamis saat seorang dihadapkan pada suatu peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh seseorang itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stress merupakan beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat. (ref:edy64).
Stres tidak selalu buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks negatif, karena stres memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan potensi hasil. Sebagai contoh, banyak profesional memandang tekanan berupa beban kerja yang berat dan tenggat waktu yang mepet sebagai tantangan positif yang menaikkan mutu pekerjaan mereka dan kepuasan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka..
Stres bisa positif dan bisa negatif Para peneliti berpendapat bahwa stres tantangan, atau stres yang menyertai tantangan di lingkungan kerja, beroperasi sangat berbeda dari stres hambatan, atau stres yang menghalangi dalam mencapai tujuan. Meskipun riset mengenai stres tantangan dan stres hambatan baru tahap permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stres tantangan memiliki banyak implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan.
Arti Penting Strees :
Stress menurut Hans Selye 1976 merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan stress apabila seseorang mengalami beban atau tugas yang berat tetapi orang tersebut tidak dapat mengatasi tugas yang dibebankan itu, maka tubuh akan berespon dengan tidak mampu terhadap tugas tersebut, sehingga orang tersebut dapat mengalami stress. Respons atau tindakan ini termasuk respons fisiologis dan psikologis.

B.     Tipe-tipe stress

Eustress 

Eustress adalah stres dalam bentuk positif. Ini adalah stres yang baik yang dapat merangsang seseorang untuk melakukan berbagai hal dengan lebih baik. Seseorang dapat merasakan situasi tertentu, seperti pekerjaan baru, atau bertemu dengan idolanya. Jenis stres ini disebut sebagai eustress, dan secara fisik dan psikologis tidak berbahaya. Sebaliknya, stres jenis ini dapat memiliki efek positif pada kesehatan dan kinerja individu, setidaknya dalam jangka pendek.

Distress

Distress, atau apa yang biasa kita sebut sebagai stress, adalah jenis stress yang memiliki efek negatif pada kesehatan fisik dan emosional. Distress sering menghasilkan emosi yang intens, seperti kemarahan, rasa takut, dan kecemasan atau panik. Terkadang, tekanan juga dapat terwujud dalam gejala fisik, seperti palpitasi, sesak napas, dan peningkatan tekanan darah.

Distress atau 'stres buruk' selanjutnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis - distres akut, gangguan akut episodik, dan penderita kronis.

Distress akut

Distres akut adalah jenis yang paling umum dari stres yang datang tiba-tiba, menjadikan kita ketakutan dan bingung. Meskipun stres akut hanya berlangsung untuk jangka waktu pendek. Stres akut sering menghasilkan reaksi'lari atau melawan'. Sebuah wawancara kerja, atau ujian dimana kita belum cukup siap adalah beberapa contoh yang bisa menyebabkan stres akut. Gejala-gejala stres akut dapat dengan mudah diidentifikasi. Gejala tersebut dapat meliputi tekanan emosional, sakit kepala, migrain, peningkatan denyut jantung, palpitasi, pusing, sesak napas, tangan atau kaki terasa dingin, dan keringat berlebihan.

Distress Episodic Akut

Istilah 'stres akut episodik' biasanya digunakan untuk situasi ketika stres akut menjadi norma. Jadi, gangguan episodik akut ditandai dengan sering mengalami stres akut. Orang-orang memiliki jenis stres ini sering menemukan diri mereka berjuang untuk mengatur kehidupan mereka dan sering menempatkan tuntutan yang tidak perlu dan tekanan pada diri mereka sendiri, yang akhirnya dapat menyebabkan kegelisahan dan lekas marah.

Orang yang menderita gangguan episodik akut selalu terburu-buru. Jenis stres dapat menyebabkan masalah yang berhubungan dengan pekerjaan, selain memburuknya hubungan interpersonal. Gejala yang paling umum stres episodik akut adalah lekas marah, sakit kepala terus-menerus, ketegangan, migrain, hipertensi, dan nyeri dada.

Distress kronis

Distress kronis adalah stres yang bertahan untuk waktu yang lama. Stres kronis biasanya berasal keadaan yang tidak dapat dikontrol. Kemiskinan, perasaan terperangkap dalam karir menjijikkan, hubungan yang bermasalah, dan pengalaman trauma masa kecil adalah beberapa contoh peristiwa atau keadaan yang dapat menyebabkan stres kronis.

Stres kronis sering menimbulkan rasa putus asa dan kesengsaraan, dan dapat mendatangkan malapetaka pada kesehatan baik fisik dan mental. Kelelahan mental dan fisik akibat stres kronis kadang-kadang dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti, serangan jantung dan stroke. Hal ini juga dapat menyebabkan depresi, kekerasan, dan bunuh diri dalam kasus yang ekstrim. Mungkin aspek terburuk dari stres kronis adalah bahwa orang terbiasa dengan jenis stres, dan sehingga sering diabaikan atau diperlakukan sebagai cara hidup. Mengobati stres kronis tidak mudah, biasanya membutuhkan perawatan medis dan tehnik manajemen stres.

Kadang-kadang stres atau Distress diklasifikasikan menjadi beberapa kategori lain, seperti physical, chemical, emotional, mental, traumatic, and psycho-spiritual. Dr Karl Albrecht, seorang konsultan manajemen, dosen, dan penulis telah mendefinisikan empat jenis stres dalam bukunya, 'Stres dan Manager'. Keempat jenis stres yang dikenal sebagai time stress, anticipatory stress, situational stress, and encounter stress.

Time stres adalah stres yang dialami ketika kita berjalan singkat atau memiliki banyak hal yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Anticipatory stress adalah stres yang kita alami tentang masa depan. Stres situasional biasanya disebabkan oleh situasi menakutkan yang berada di luar kendali kita. Di sisi lain, ketika kita merasa cemas tentang bertemu dan berinteraksi dengan orang tertentu atau sekelompok orang, itu disebut sebagai encounter stress.

Jadi, stres ada beberapa jenis, dan dengan demikian pengobatan dan manajemen dapat sangat berbeda. Langkah pertama dari manajemen stres adalah mengidentifikasi jenis stres yang dialami, serta jenis stres (peristiwa dan pikiran) yang menciptakan stres. Sekali telah mengidentifikasi stres tertentu, kita dapat mengambil tindakan yang tepat untuk mengontrol atau mengatur mereka. Meditasi, yoga, dan teknik relaksasi lainnya, bersama dengan sikap positif terhadap kehidupan dapat membantu  dalam mengendalikan stres. Tapi kadang-kadang, bantuan profesional mungkin diperlukan untuk menghilangkan atau mengontrol faktor-faktor yang memicu stres.

c. Symptom-reducing respon tindakan stress
   Mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) merupakan stratregi yang tidak disadari yang digunakan untuk mengatasi emosi negatif. Strategi ini tidak mengubah situasi stress melainkan bertujuan untuk mengubah cara menghayati atau memikirkan situasi. Jenis-jenis defense mechanism :
a.      Represi
Dalam represi, impuls dan memori yang menimbulkan rasa malu, rasa bersalah atau sikap mencela diri sendiri ditekan atau direpres masuk ke bawah sadar.
b.      Rasionalisasi
Rasionalisasi dalam mekanisme pertahanan diri adalah bertindak dengan menggunakan motif yang dapat diterima secara logis atau sosial, sedemikian rupa sehingga tampaknya bertindak secara rasional. Rasionalisasi memiliki dua fungsi, yaitu menghilangkan kekecewaan pada saat kita gagal mencapai tujuan dan merasionalisasikan apa yang telah kita lakukan untuk menempatkan perilaku kita dalam pandangan yang lebih menguntungkan.
c.       Pembentukan Reaksi
Pembentukan reaksi terjadi ketika orang melakukan perbuatan yang sebaliknya dari motif yang sesungguhnya.
d.      Proyeksi
Proyeksi adalah perilaku seseorang yang menutupi perilakunya yang tidak layak atau kurang baik, kemudian memproyeksikan kualitas atau sifat yang tidak baik tersebut pada orang lain.
e.      Penyangkalan
Penyangkalan adalah upaya untuk menolak kenyataan negatif yang ada pada diri kita atau keluarga kita.
f.        Intelektualisasi
Intelektualisasi adalah upaya melepaskan diri dari situasi stres dan menghadapinya dengan menggunakan istilah-istilah yang abstrak dan intelektual.
g.      Pengalihan
Mekanisme pertahanan yang dianggap dapat memenuhi fungsinya adalah mekanisme yang dapat menurunkan kecemasan dan memuaskan motif yang tidak dapat dibenarkan dengan cara melakukan pengalihan ke aktivitas lain.

d. pendekatan problem solving terhadap tindakan stress
Strategi coping yang spontan mengatasi stress
Taylor (1991) mengemukakan 8 strategi coping yang berbeda: (a) Konfrontasi, (b) mencari dukungan sosial, (c) merencanakan pemecahan masalah dikaitkan dengan ‘problem-focused coping’. Strategi coping lainnya memfokuskan pada pengaturan emosi: (d) kontrol diri, (e) membuat jarak, (f) penilaian kembali secara positif (positive reappraisal), (g) menerima tanggung jawab dan (h) lari/penghindaran (escape/avoidance) (Taylor, 1991). Tetapi penelitian lainnya menetapkan jumlah dan jenis strategi coping yang berbeda. Contohnya, Cohen & Lazarus (1983) memberikan 5 cara coping, Vingerhoets dkk. (1990) 7 cara dan Sarafino (1990) mengidentifikasi 6 cara coping. Carver, Scheier dkk bahkan memberikan 13 skala yang berbeda (Eiser, 1990).
Perlu diketahui, bahwa tidak ada satu pun metode yang dapat digunakan untuk semua situasi stress. Tidak ada strategi coping yang paling berhasil. Strategi coping yang paling efektif adalah strategi yang sesuai dengan jenis stress dan situasi (Rutter, 1983). Keberhasilan coping lebih tergantung pada penggabungan strategi coping yang sesuai dengan ciri masing-masing kejadian yang penuh stress, dari pada mencoba menemukan satu strategi coping yang paling berhasil (Taylor, 1991).

II.                Hubungan Interpersonal
a.      Model-model hubungan interpersonal
Ada empat buah model yang dapat digunakan untuk menganalisa hubungan interpersonal (Rakhinat, 1991), meliputi:
 a.Model pertukaran sosial (social exchange model)
Model ini mendefinisikan hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang yang akan raemberikan keuntungan bagi individu.Model ini mendorong individu memikirkan setiap keuntungan dan keragian dari hubungan yang terjalin. Individu yang merasa tidak memperoleh keuntungan saina sekali maka ia akan berusaha mencari hubungan yang lain yang memberinya keuntungan. Keuntungan dan kerugian ini dinilai berdasarkan tingkat perbandingan sebagai tikurau staudiir beriipn pengalaman masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya,
b.Model peranan {role model)
 Hubungan interpersonal adalah panggung sandiwara yang setiap orang harus memainkan peranannya sesuai "naskah" yang dibuat masyarakat. Hubungan ini akan berkembang bila individu bertindak sesuai kewajiban atau tugas yang berkaitan dengan posisi tertentu, desakan sosial yang memaksa individu untuk memenuhi peranannya, kemampuan meraerankan peranan tertentu, serta mampu menghindari konflik peranan bila individu tidak sanggup mempertemukan berbagai peranan yang kontradiktif.
c. Model permainan (the"game people play"model')
 Hubungan interpersonal sebagai ajang menampilkan salah satu aspek kepribadian individu (orang tua, dewasa, anak). Dikenai sebagai analisis transaksional.
d.Model interaksionalHubungan interpersonal
merupakan suatu sistem yang memiliki sifat-sifat struktural, integralif dan medan yang masing-masing saling terkait raembentuk kesatuan skala yang cenderung memelihara dan mempertahankan kesatuan. Artinya, hubungan interpersonal melihat karakteristik individu yang terlibat, sifat kelompok, individu, tujuan, inetode, pelaksanaan dan pennainan yang dilakukan (gabungan dari model pertukaran, peranan dan pennainan).
Menurut Reis dan Patrick (1996 dalam Hewstone, Fincham dan Foster, 2005), orang akan mengidentifikasi hubungan yang menyenangkan ketika:
 a. Caring : kita merasa orang lain cinta dan perhatian pada kita. Kita merasa senang jika teman sebaya kita memberikan perhatian kepada kita. Apabila kita mengalami kesusahan dan teman kita berempati maka kita pasti akan merasa nyaman berteman dengan mereka.
b. Understanding : orang lain memahami kita. Hubungan yang menyenangkan akan terjadi apabila kita bisa saling memahami satu sama lain. Contohnya adalah ketika teman kita sedang berada di situasi yang tidak mengenakan, kita harus memahaminya dengan cara tidak membuat suasana menjadi semakin runyam.
c. Validating : orang lain menunjukkan penerimaannya pada kita. Contohnya adalah kita merasa nyaman berteman dengan teman kita karena mereka memberikan respon terhadap apa yang kita lakukan dan menerima segala kelebihan dan kekurangan kita.
Tahapan hubungan interpersonal
Menurut Knapp, siklus hubungan terbagi menjadi  :
1. Tahap Memulai (Initiating)
Merupakan usaha-usaha yang sangat awal yang kita lakukan dalam percakapan dengan seseorang yang baru kita kenal. Seperti contohnya ketika ingin berkenalan dengan teman baru, kita menanyakan namanya dan bagaimana kabarnya.
2.Tahap Penjajagan (Experimenting)
Merupakan fase dimana kita mencoba topik-topik percakapan untuk mengenal satu sama lain. Misalnya kita berbasa-basi dengan teman yang baru kita kenal. Ini bertujuan agar bisa mengetahui pribadi masing-masing.
3. Penggiatan (Intesifying)
Menandai awal keintiman, berbagi informasi pribadi dan awal informalitas yang lebih besar.
Dalam fase ini seseorang sudah mulai menceritakan masalah pribadinya dan sudah mulai terbuka kepada temannya.
4. Pengintegrasian (integrating)
Terjadi bila dua orang mulai menganggap diri mereka sebagai pasangan. Keduanya secara aktif memupuk semua minat, sikap dan kualitas yang tampaknya membuat mereka unik sebagai pasangan.
5. Pengikatan (Bounding)
Adalah tahap yang lebih formal atau ritualistic, bisa berbentuk pertunangan atau perkawinan, namun “berhubungan tetap” juga merupakan suatu bentuk pengikatan


b.      Pembentukan Kesan dan ketertarikan interpersonal
Pembentukan persepsi interpersonal menunjukkan bahwa persepsi diawali dengan observasi terhadap seseorang, kemudian terjadi proses atribusi dan disposisi atau pengaturan dan pengintegrasian seluruh faktor yang berperan dalam persepsi secara terintegrasi sehingga membentuk suatu kesan terhadap objek persepsi. pembentukan kesan dapat timbul melalui dua cara, yaitu: (a) stimulus yang diterima melalui observasi memperoleh penilaian atau atribusi, pengelolaan atau disposisi, dan interpretasi secara terintegrasi dengan keseluruhan aspek yang memengaruhi persepsi serta pribadi person yang terlibat dalam proses interaksi, atau (b) stimulus yang diterima menimbulkan kesan secara langsung melalui penilaian sesaat tanpa proses atribusi, disposisi, dan integrasi. Selanjutnya, faktor personal seperti karakteristik pribadi, peng­alaman, hubungan personal sebelumnya, motif-motif; serta faktor situasional sangat berperan dalam persepsi interpersonal. Oleh karena itu, dalam persepsi interpersonal dapat terjadi kekeliruan persepsi yang dapat bersumber dari faktor personal pa­da diri penanggap.

c.       Intimasi dan hubungan pribadi
Intimasi atau ketertarikan adalah sebuah fenomena yang dialami dan dirasakan oleh setiap individu didalam kehidupannya, terkadang ketertarikan itu berawal dari sebuah proses interaksi antara satu individu dengan individu lainnya.
Daya tarik hubungan interpersonal merupakan faktor penyebab terjadinya hubungan interpersonal. Ada faktor internal dan juga faktor eksternal. Faktor Internal (Baron dan Byrne, 2008). Faktor internal adalah faktor dalam diri kita meliputi dua hal, yaitu kebutuhan untuk berinteraksi (need for affiliation) dan pengaruh perasaan. Interaksi antara satu orang dengan orang yang lain bisa terjadi di mana saja, misalnya di rumah, sekolah, kantor pos, kantin, dan lain- lain. Namun, kebutuhan untuk saling berinteraksi dengan orang-orang disekitar kita berbeda-beda satu sama lain.
Dalam menjalin suatu hubungan ada beberapa faktor yang mempengaruhi:
1.      Faktor perasaan
2.      Kedekatan
3.      Daya tarik fisik
Dengan adanya ketiga faktor tersebut maka akan terjadi hubungan tingkat lanjut yang kita kenal dengan intimasi. Intimasi ini tentunya merupakan hubungan yang bersifat lebih personal. Hubungan interpersonal yang didasarkan atas tingkat kedalaman atau keintiman, yaitu hubungan biasa dan hubungan akrab atau intim. Hubungan biasa merupakan hubungan yang sama sekali tidak dalam atau impersonal atau ritual. Sedangkan hubungan akrab atau intim ditandai dengan penyingkapan diri (self-disclosure). Makin intim suatu hubungan, makin besar kemungkinan terjadinya penyingkapan diri tentang hal-hal yang sifatnya pribadi. Hubungan intim terkait dengan jangka waktu, dimana keintiman akan tumbuh pada jangka panjang. Karena itu hubungan intim akan cenderung dipertahankan karena investasi yang ditanamkan individu di dalamnya dalam jangka waktu yang lama telah banyak. Hubungan ini bersifat personal dan terbebas dari hal-hal yang ritual.

Sumber :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar