Selasa, 14 Juli 2015

TERAPI EKSISTENSIAL


A. Prinsip Terapi

        Menurut pandangan ekistensial, manusia mampu akan dirinya sendiri, yaitu kapasitas yang membedakan diri kita dengan makhluk lain. Kita adalah makhluk bebas yang bertanggungjawab dalam memilih cara hidup kita, sehingga nasib kita berada ditangan kita sendiri. Kesadaran akan adanya kebebasan dan tanggungjawab tersebut kadang menimbulkan kecemasan eksistensial. Kita mengetahui bahwa pilihan ada ditangan kita, meskipun belum mengetahui bagaimana akhirnya (tanpa ada kepastian), hal tersebutlah yang membuat kita cemas.

        Eksistensialisme berpendapat bahwa orang tidak bisa melarikan diri dari kebebasan, dalam arti bahwa kita dituntut untuk selalu memikul tanggung jawab. Banyak orang yang takut memikul beban tanggung jawab untuk menjadi orang yang dikehendaki. Terapi eksistensial berusaha agar klien bisa keluar dari belenggu yang kuat itu dan mau menantang kecenderungan mereka yang sempit dan bersifat memaksa, yang merupakan ganjalan dari kebebasan mereka.

        Terapi eksistensial menolong klien untuk bisa menghadapi kecemasan memilih untuk diri sendiri dan kemudian menerima realitas bahwa mereka itu lebih dari sekedar korban dari kekuatan yang ada diluar diri mereka. Tujuannya adalah agar klien mampu melakukan tindakan yang berdasarkan pada tujuan otentik bagi terciptanya eksistensi bermutu. Tugas terrapin eksistensial adalah mengajarkan klien mendengarkan apa yang telah mereka ketahui tentang diri mereka sendiri, meskipun mereka mungkin tidak memperhatikan apa yang telah mereka ketahui.

        Terapi eksistensial biasanya menangani orang yang memiliki kesadaran terbabtas tentang dirinya sendiri dan biasanya tidak bisa melihat sifat problema yang dihadapinya secara jelas. Mereka cenderung merasa terjebak dan tidak berdaya. Terapis harus mampu mengkonfrontasikan klien dengan cara hidup mereka dalam keberasaan terbatas ini dan menolong mereka untuk menyadari bahwa mereka sendiri ikut berperan dalam kondisi semacam itu. Misalnya, terapis memberikan sebuah cermin kepada klien sehingga klien dapat berkonfrontasi dengan dirinya sendiri. Klien harus aktif dalam proses terapi, mereka diharapkan dapat menentukan rasa takut, rasa bersalah dan kecemasan apa yang dirasakan.

Ada 3 tahap dalam proses konseling eksistensial :
1. Terapis membantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia
2. Klien didorong semangatnya untuk lebih dalam lagi meneliti sumber dan otoritas dari system nilai mereka
3. Berfokus untuk membantu klien untuk dapat melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka sendiri. 

Tema-tema dan dalil-dalil utama Eksistensial:

Dalil 1 : Kesadaran Diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari diri yang menjadikan dirinya melampaui situasi sekarang dan membentuk basis bagi aktivita berpikir dan memilih yang khas manusia. Kesadaran diri membedakan manusia dengan maklhuk lain. Pada hakikatnya, semakin tinggki kesadaran diri seseorang, maka ia akan semakin hidup sebagai pribadi. Meningkatkan kesadaran berarti meningkatkan kesanggupan seseorang untuk mengalami hidup secara penuh sebagai manusia. Peningkatan kesadaran diri uang mencakup kesadaran atas alternative, motivasi, factor yang membentuk pribadi dan atas tujuan pribadi adalah tujuan segenap konseling.

Dalil 2 : Kebebasan dan tanggung jawab
Kebebasan adalah kesanggupan untuk meletakkan perkembangan di tangan sendiri dan untuk memilih diantara alternative. Pendekatan eksistensial meletakkan kebebasan, determinasi diri, keinginan dan putusan pada pusat keberadaan manusia. Tugas terapis adalah membantu kliennya dalam menemukan cara klien sama sekali menghindari penerimaan kebebasannya, dan mendorong klien untuk belajar menanggung resiko atas keyakinannya terhadap akibat penggunaan kebebasannya.

Dalil 3 : Keterpusatan dari kebutuhan akan orang lain
Kita masing-masing memiliki kebutuhan yang kuat untuk menemukan suatu diri, yakni menemukan identitas pribadi kita. Kita membutuhkan hubungan dengan keberadaan  yang lain. Kita harus memberikan diri kita kepada orang lain dan terlibat dengan mereka.

Dalil 4 : Pencarian Makna
Terapi eksistensial bisa menyediakan kerangka konseptual untuk membantu klien dalam usahanya mencari makna hidup. Manusia pada dasarnya selalu dalam pencarian makna dan identitas diri. Hidup tidak memiliki makna dengan sendirinya, manusialah yang harus menciptakan dan menemukan makna hidup itu. Tugas proses terapeutik adalah menghadapi masalah ketidakbermaknaan dan membantu klien dalam membuat makna dari dunia yang kacau.

Dalil 5 : Kecemasan sebagai syarat hidup
Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia yang mana merupakan sesuatu yang patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasional yang kuat untuk pertumbuhan. Kita mengalami kecemasan dengan meningkatnya kiesadaran kita akan kebebasan dan atas konsekuensi dari penerimaan ataupun penolakan kebebasan. 


Dalil 6 : Kesadaran atas Kematian dan Non ada
Para eksistensialis tidak memandang kematian secara negative, dan mengungkapkan bahwa hidup memiliki makna karena memiliki keterbatasan waktu. Karena kita bersifat lahiriah, bagaimanapun kematian menjadi pendesak bagi kita agar menganggap hidup dengan serius. Ketakutan akan kematian akan membayangi mereka yang takut mengulurkan tangan dan benar-benar merangkul kehidupan.

Dalil 7 : Perjuangan untuk Aktualisasi diri
Setiap orang memiliki dorongan bawaan untuk menjadi seorang pribadi, yakni mereka memiliki kecenderungan kearah pengembangan keunikan dan ketunggalan, penemuan identitas pribadi. Jika seseorang mampu untuk mengaktualisasi potensi secara pribadi, maka ia akan mengalami kepuasan yang paling dalam yang bisa di capai oleh manusia, sebab demikianlah alam mengharapkan mereka berbuat.

Fungsi dan Peran Terapis : Memahami keberadaan klien dalam dunia yang dimilikinya.
Kelebihan Terapi Eksistensial-humanistik :
Teknik ini dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan kepercayaan diri
Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri
Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena social
Lebih cocok digunakan pada perkembangan klien seperti masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan ataupun masa transisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa.

Kelemahan Terapi Eksistensial-humanistik :
Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya mistikal
Dalam pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas
Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan ditentukan oleh klien sendiri)
Memakan waktu lama

Contoh kasus :
Leon seorang mahasiswa, mungkin melihat dirinya sebagai dokter masa depan, tetapi nilainya yang dikeluarkan dari sekolah kedokteran ternyata dibawah rata-rata. Perbedaan antara apa yang Leon melihat dirinya (konsep diri) atau bagaimana ia ingin melihat dia (ideal konsep diri) dan realitas kinerja akademis yang buruk dapat menyebabkan kegelisahan dan kerentanan pribadi. Leon harus melihat bahwa ada masalah atau ia tidak cukup nyaman untuk menghadapi penyesuaian psikologis untuk mengeksplorasi kemungkinan untuk perubahan.
Kesimpulan : salah satu alasan klien mencari terapi adalah perasaan tidak berdaya dan ketidakmampuan untuk membuat keputusan secara efektif. Mereka mungkin berharap untuk menemukan “jalan” melalui bimbingan terapis. Klien belajar bahwa mereka dapat bertanggung jawan untuk diri mereka sendiri dalam hubungan dan mreka dapat belajar menjadi lebih bebas dengan menggunakan hubungan untuk mendapatkan pemahaman diri yang besar.


sumber : https://www.academia.edu/6845590/Gestalt_n_Psikoanalisa

nama : Ghifari Rizky Pahlevi
kelas : 3PA10
npm : 13512136

Tidak ada komentar:

Posting Komentar